Bukit Kasih KanonangBukit Kasih Kanonang

 

detikTravel Community – 

Indonesia memiliki toleransi antar umat beragama yang tinggi. Penduduknya pun saling hidup rukun meski agama mereka berbeda. Di wilayah Tomohon, Sulawesi Utara para traveler dapat melihat simbol toleransi dari lima agama.

Namanya Bukit Kasih Kanonang. Bukit yang terletak di wilayah Tomohon, Sulawesi Utara yang memanifestasikan simbol toleransi dari lima agama di Indonesia. Lima ajaran tersebut masing-masing terpahat pada setiap bidang sisi yang berbeda.

Bukit Kasih ini terletak di Desa Kanonang, Kecamatan Kawangkoan, Kabupaten Minahasa, di bawah kaki Gunung Soputan. Jarak dari Kota Manado sekitar 55 km dengan jalanan yang telah teraspal rata. Sekitar 15 menit meninggalkan Kota Tomohon, jalanan menuju Bukit Kasih berliku dan menanjak, maklum saja karena kawasannya yang terletak di daerah gunung.Â

Tak ada yang spesial hari itu, hanya terik mentari yang mencoba mengalirkan peluh melalui pori-pori. Awan-awan enggan menyapa meski hanya sejenak untuk sekedar meneduhkan rasa. Meski sedikit enggan, kami menyusuri jalanan untuk mengunjungi Bukit Kasih Kanonang yang terkenal sebagai ‘Wisata Toleransi Agama’.Â

Dari kejauhan, nampak berdiri kokoh menantang keperkasaan sinar matahari, sebuah tugu setinggi 22 meter dengan lima bidang sisi. Masing-masing sisi terpahat relief simbol dari lima agama dan tertulis tentang ajaran cinta kasih.

Ajaran Islam menyumbangkan firman yakni “Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan (Al Maidah:2)” dan “Tidaklah Aku mengutusmu (Muhammad) selain untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam (Al Hadits).Â

Firman Tuhan melalui ajaran Kristen terpahat dengan “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap: hati, jiwa dan akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Matius)”; “Dari salib Yesus bersabda: Inilah ibumu..!(Yoh)” dan “Tinggallah dalam kasih Ku (Yoh)”.Â

Buddha atau Sang Sidharta Gautama menuangkan ajarannya yang terpahat dengan “Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasam Buddhasa (Terpuji Sang Bhagava yang Maha Suci yang telah mencapai penerangan sempurna)” dan “Tidak melakukan segala bentuk kejahatan; senantiasa mengembangkan kebajikan; dan membersihkan pikiran; inilah ajaran Buddha”.Â

Penganut ajaran suci kitab Weda atau Hindhu menyumbangkan ajaran yang terpahat dengan “Ia yang tidak menyebabkan penderitaan bahkan mengusahakan keselamatan bagi semua makhluk, ia mendapat kebahagiaan tanpa akhir.”Â

Diresmikan pada tahun 2002 oleh Drs AJ Sondakh (mantan Gubernur Sulut), Bukit Kasih Kanonang diharapkan dapat menjadi simbol toleransi antar umat beragama di Indonesia. Di sini kita juga akan melihat lima rumah ibadah yang berdiri berdampingan satu sama lain. Untuk dapat mencapainya, Anda harus menapaki anak tangga yang berjumlah 2.435 buah. Siapkan fisik Anda baik-baik!

Pada satu sisi bukit di bawah dari deretan rumah–rumah ibadah, uap gas belerang muncul dari bawah tanah. Aliran sungai kecil dari sumber mata air panas dijadikan warga sebagai tempat memasak milu atau jagung dan telur. Milu–milu disimpan di dalam karung dan diikat kemudian ditenggelamkan di kubangan air panas. Sesekali  hidung kita akan ditusuk oleh bau belerang yang cukup menyengat seperti bau nasi basi yang telah tersimpan berhari-hari yang terbawa oleh angin.

Puncak tugu dengan patung merpati dan bola merupakan lambang kesucian. Merpati merupakan hewan yang terkenal sebagai simbol dari kesucian dan kesetiaan. Setiap agama itu suci dan tidak memiliki noda, barangkali pemeluknya yang menodai kesucian dari agama tersebut bagai nila setitik rusak susu sebelanga. Bola dunia memberi gambaran bahwa cinta kasih itu bersifat universal tanpa ada sekat.

Cinta kasih yang suci antara umat beragama seharusnya tidak mengenal batas. Toh di dalam ajaran agama tak ada sekat untuk menuangkan cinta kasih. Tidak ada ajaran agama satupun yang mengajarkan bahwa kasihilah sesama agamamu saja, tidak. Jelas maksudnya adalah kasihilah manusia. Manusia itu komponen universal bahkan orang atheis sekalipun berhak untuk mendapatkan konsep dari kasih dan cinta dari ajaran agama.

Sejumlah tangga untuk mencapai kelima rumah ibadah memberi gambaran bahwa untuk mencapai toleransi antar umat beragama diperlukan usaha yang cukup keras bagai menapaki ratusan anak tangga di sebuah bukit yang terjal. Proses pembentukan toleransi memang tidak instan tetapi hasil yang didapatkan adalah sebuah kepuasan yang tak dapat diukur dengan kata-kata. Hal yang diibaratkan dengan melihat jauh lepas ke arah pemandangan Kota Tomohon yang indah dengan Danau Tondano sebagai hiasan dari tempat kelima rumah ibadah.

Ada hal yang menarik dari beberapa simbol toleransi di Bukit Kasih ini. Ini menandakan bahwa sederet konflik antar umat beragama di Indonesia bukan merupakan buah tangan dari proses pemaknaan agama itu sendiri melainkan hanyalah ego dari pemeluknya belaka. Bukankah inti dari setiap ajaran agama kasihinilah sesamamu? Mengapa kita harus mencaci satu sama lain?

Saya pribadi membayangkan Indonesia seperti Bukit Kasih ini dimana tidak ada lagi kejadian pembakaran gereja oleh oknum–oknum mengatasnamakan organisasi keagamaan. Tidak ada lagi yang namanya pembantaian umat beragama hanya karena masalah lahan pertanian.Â

Bukankah di Bukit Kasih ini telah diajarkan salah satu petikan dari ajaran agama bahwa sejatinya agama itu mengajarkan cinta kasih? Agama itu indah, hanya pengikutnyalah yang membuatnya tidak indah. Ucok Alhariri – d’Traveler