Panorama Dubai Creek.

Orang bilang Dubai adalah tujuan wisata yang mahal. Benarkah demikian? “Dubai itu mahal sebenarnya nggak juga, malah bisa dibilang sama dengan Singapura,” kata Hairun Fahrudin, penulis buku “Dubai Stopover” di talkshow Kompas Travel Mart, Mal Grand Indonesia Jakarta, Minggu (15/4/2012).

Jadi manfaatkan waktu transit untuk wisata. Nggak sekadar nunggu di airport.
— Hairun Fahrudin

Hairun pernah tinggal dan bekerja selama tiga tahun di Dubai. Ia mengungkapkan harga makanan di Dubai memang lebih mahal daripada Thailand dan Indonesia, begitu pula dengan penginapan. Tetapi, harganya lebih murah dibanding Eropa Barat.

“Buku tentang wisata Dubai masih sedikit padahal lokasinya sangat strategis,” katanya.

Apalagi, lanjutnya, kunjungan ke Dubai tidak perlu tambahan tiket estra yang artinya tidak perlu tambahan uang, sebab bisa didatangi secara transit. Misalnya, jika Anda rencanakan perjalanan ke Eropa atau Timur Tengah, dapat transit di Dubai.

“Jadi manfaatkan waktu transit untuk wisata. Nggak sekadar nunggu di airport,” tutur Hairun.

Jika melakukan penerbangan dengan Emirates Airlines akan mudah mendapatkan visa kunjungan ke Dubai. Menurut Hairun, misalnya pergi ke Eropa, maka turis bisa melakukan apply visa untuk wisata di Dubai selama masa transit.

Apply visa boleh stop over misalnya beberapa jam di Dubai. Minimal 96 jam,” katanya.

Untuk pilihan akomodasi juga beragam. Hairun mengungkapkan di Dubai banyak penginapan murah untuk backpacker. Ada pula dorm atau penginapan dengan tipe seperti asrama.

“Memang kalau dibandingkan penginapan di Indonesia, akan lebih mahal. Tapi di Dubai banyak pilihannya,” tuturnya.

Hairun menceritakan Dubai ibarat kota untuk ekspatriat. Lebih dari 90 persen penduduk di Dubai merupakan orang asing, sisanya barulah orang-orang Arab.

“Makanya kalau ada yang tanya saya apa sudah bisa bahasa Arab karena sudah tinggal di Arab, bingung juga jawabnya,” katanya sambil tertawa.