Oleh: Sri Anindiati Nursastri – detikTravel

Berlibur ke Pulau Bali tak lengkap jika belum menyaksikan pertunjukan Barong. Tapi sebelum itu, alangkah baiknya Anda mengetahui budaya dan nilai yang terukir dalam topeng khasnya. Topeng Barong ini punya banyak makna.

Mungkin Anda akan teringat Barong ketika melihat topeng berwajah seram, bermata besar, serta berambut gondrong. Memang benar, topeng ini tak sekadar menutupi bagian wajah saja seperti artinya secara harfiah. Topeng ini besar. Kita bisa melihatnya pada pertunjukan seni khas masyarakat Bali.

Sejak abad ke-17 masehi, masyarakat Bali percaya bahwa tiap daerah punya roh pelindung masing-masing. Ada yang bentuknya babi hutan, harimau, ular, atau singa. Roh-roh pelindung inilah yang diberi raga sebagai Barong.

Topeng Barong yang asli dibuat dari kayu yang diambil di tempat-tempat angker, kuburan misalnya. Oleh karena itu, Barong merupakan benda sakral yang sangat disucikan oleh masyarakat Hindu di Bali.
Walaupun tampak serupa, tiap daerah punya Barong yang berbeda. Ada Barong Gajah, Barong Macan, Barong Lembu, Barong Kambing, juga Barong Ket atau Barong Singa. Barong yang disebut terakhir itu adalah yang paling terkenal. Orang Indonesia percaya bahwa singa adalah raja hutan. Singa dipercaya bisa menghancurkan kekuatan jahat. Barong dalam bentuk singa (Barong Ket) dianggap sebagai raja dari roh-roh, serta melambangkan kebaikan.

Walau begitu, semua Barong punya kesamaan yaitu kekuatan untuk melindungi tanah dan hutan. Topeng-topeng seperti Barong itu menjadi salah satu hasil akulturasi agama Hindu dan Buddha yang dulu pernah singgah. Buktinya, di negara-negara penganut Buddha seperti Jepang ada pula topeng dengan bentuk yang serupa.

“Kini topeng-topeng itu masih menjadi bagian tradisi atau ekspresi estetik manusia. Bahkan pada masyarakat yang masih lekat dengan kepercayaan animisme dan dinamisme, topeng bukan hanya dipandang sebagai penutup wajah semata, namun memiliki kekuatan magis. Selain sebagai benda seni, topeng juga dikembangkan sebagai bentuk seni pertunjukan tari atau teater,” ulas Dosen Seni Karawitan di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Kadek Suartaya, dalam situs isi-dps-ac.id.

Oleh karena itu, Anda bisa menyaksikan sendiri topeng Barong ini pada pertunjukan Barong Ket. Pertunjukan ini bercerita tentang pertarungan tanpa akhir antara kebajikan (dharma) dan keburukan (adharma). Simbol kebaikan dimainkan oleh Barong Ket itu sendiri, sementara simbol keburukan oleh sosok Rangda.

Rangda juga punya beberapa jenis sesuai bentuk fisiknya. Ada yang bentuknya mirip singa, ada yang mirip wajah manusia dengan wajah agak lebar, ada juga yang berbentuk raksasa. Rangda yang terakhir itu, terkenal paling seram.
Anda bisa membedakan Barong dan Rangda dari warna topengnya. Barong berwarna merah, sementara Rangda berwarna putih.

Selain mengenakan topeng Barong, tubuh para penarinya juga dihiasi ukiran kulit. Ada juga tempelan cermin-cermin kecil yang menempel di kostumnya. Bulunya terbuat dari perasok (serat dari daun sejenis pandan), ijuk, atau terkadang dari bulu burung gagak. Dalam pertunjukan ini, Barong Ket dianggap sebagai simbol kemenangan sementara Rangda sebaliknya. Tapi di luar seni pagelaran, kedua figur ini sama-sama menjadi pelindung masyarakat.

Jika Anda telah melihat pertunjukan Barong dan telah mengenal artinya, maka jangan lupa bawa topeng ini sebagai oleh-oleh dari Bali. Tak harus topeng yang asli, Anda bisa membeli topeng barong dalam bentuk pernak-pernik. Dengan begitu, kunjungan Anda ke Pulau Dewata akan lebih bermakna dengan bertambahnya pengetahuan budaya.