Masjid Demak

 

Oleh: Hendriyo Widi

SETIAP bulan Ruwah,banyak peziarah mengunjungi Masjid Demak, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, seperti pada Sabtu (16/7/2011) yang lalu. Selain berziarah ke masjid yang dibangun Wali Songo itu, mereka juga mengunjungi makam sultan pertama Demak Raden Patah, dan Museum Masjid Demak.

Demak, salah satu kabupaten di Jawa Tengah, merupakan kota ziarah yang kerap disebut sebagai Kota Wali atau Nagari Para Wali. Kota yang menjadi cikal bakal Islam di Jawa itu meninggalkan kenangan dan ingatan religius berupa Masjid Demak dan makam Sunan Kalijaga.

Kota kecil tersebut terletak di timur Semarang dan berjarak sekitar 28 kilometer dari ibu kota Jawa Tengah itu. Untuk menuju Demak cukup mudah, yaitu dengan menyusuri jalan pantai utara Semarang-Demak menggunakan kendaraan bermotor selama lebih kurang 30 menit.

Setiap bulan Ruwah, para peziarah domestik dan mancanegara selalu memadati Demak. Masjid Demak yang merupakan peninggalan Sultan Demak pertama, Raden Fatah, dan Wali Songo serta makam Sunan Kalijaga itu menjadi destinasi utama.

Kantor Pengelola Masjid Demak mencatat, pada Juni 2011, dari 122.577 peziarah, 194 peziarah berasal dari Malaysia dan Singapura. Sementara itu, Sekretariat Kasepuhan Sunan Kalijaga menyebutkan, peziarah di makam Sunan Kalijaga pada Juni 2011 berjumlah 586.967 orang. Sebanyak 103 peziarah di antaranya berasal dari Malaysia dan Singapura. Apa yang menarik para peziarah atau bahkan turis asing hijrah ke Masjid Demak dan makam Sunan Kalijaga? Peninggalan Islam

Dahulu Demak bernama Glagahwangi, daerah perkampungan nelayan di tepi Sungai Tuntang yang bermuara di Laut Jawa. Sebagian besar daerahnya berupa rawa-rawa berlumpur, berhias rumah-rumah panggung.

Pada 1476, Raden Fatah, keturunan Raja Majapahit Kertabhumi bergelar Prabu Brawijaya V, mengubah perkampungan itu menjadi kerajaan atau kesultanan. Rawa-rawa pun disulap menjadi kawasan permukiman dan pertanian, sedangkan Sungai Tuntang menjadi jalur lalu lintas perdagangan.

Di perkampungan yang bertumbuh menjadi Kasultanan Demak itulah syiar Islam di Jawa pertama kali bergaung. Sebagai wadah utama dan pusat syiar itu, Raden Fatah dan Wali Songo mendirikan Masjid Demak pada 1479.

Masjid yang terletak di kompleks Alun-alun Demak itu mempunyai kekhasan berupa empat saka guru atau tiang penyangga yang terbuat dari kayu jati setinggi 16,30 meter. Keempat saka guru itu dibangun Sunan Bonang, Ampel, Gunung Jati, dan Kalijaga.

Saka guru Sunan Kalijaga dibuat dengan tatal atau serpihan-serpihan kayu yang dilingkari papan jati dua lapis setebal 8-11 sentimeter. Keempat saka guru itu kemudian dilengkapi dengan delapan tiang lain yang konon berasal dari Kerajaan Majapahit.

Selain itu, Masjid Demak berhiaskan pula porselen-porselen dari China yang diyakini sebagai pemberian Putri Campa, ibunda Raden Fatah. Adapun pintu masuk masjid konon merupakan pintu kotak sangkar petir yang ditangkap Ki Agung Sela.

Di kompleks masjid itu pula Raden Fatah dimakamkan sehingga banyak peziarah masjid yang juga mengunjungi makam pendiri Kasultanan Demak itu. Tak mengherankan jika sastrawan asal Blora, Pramoedya Ananta Toer, menyebut pesona Masjid Agung Demak dalam Jalan Raya Pos, Jalan Daendels (2007).

“Demak tak dapat diceraikan dari Masjid Agung Demak yang dimashurkan mempunyai empat tiang utamanya terbuat dari serpihan kayu, didindingi kayu, dan diikat dengan ikatan cincin-cincin besi, menembusi lantai-lantai masjid sampai ke atap. Serambinya yang luas dituguri oleh 8 buah tiang kayu berpahat, yang dimashurkan berasal dari Majapahit. Pada dinding-dindingnya dipaterikan porselin-porselin China,” tulisnya.

Daya tarik Demak yang lain adalah makam dan masjid Sunan Kalijaga di Desa Kadilangu. Lokasi itu berjarak sekitar 2 kilometer dari Masjid Demak. Hampir setiap hari para peziarah mendaraskan ayat-ayat suci Al Quran di makam Sunan Kalijaga. Sementara itu, di Masjid Kadilangu, setiap sore sekumpulan anak mengenakan peci duduk melingkari meja, mendengarkan dan menyimak tadarus Al Barzanji berbahasa Arab. Terkadang pula mereka belajar tembang macapat yang berisi makna dan arti dari ayat-ayat Al Barzanji.

Daya tarik lain tampak dalam tradisi tabuh beduk peninggalan Sunan Kalijaga dan shalat malam setiap pukul 24.00. Tradisi itu memadukan budaya tirakat malam Jawa dan ibadah shalat. Selain itu, tiap penjamasan baju kebesaran Sunan Kalijaga, Kutang Ontokusuma, pada 10 Zulhijah, pengurus masjid dan peserta mengenakan pakaian adat Jawa dan baju takwa atau baju muslim ala Sunan Kalijaga.

“Kami ingin para peziarah tidak sekadar mencari berkah, tetapi juga mengingat kembali ajaran Sunan Kalijaga yang menyebarkan agama Islam secara damai dan menghormati keberagaman,” kata keturunan Sunan Kalijaga generasi ke-13, Wiedjayanto.

Dari Demak-lah sebagian besar peziarah berupaya menimba kembali serta menapak jejak dan ajaran para wali yang menyebarkan Islam sebagai rahmatan lil alamin, rahmat bagi semesta alam. Dari Demak-lah para peziarah dapat mengenalkan keteladanan atau memberikan bekal rohani kepada generasi masa depan melalui kisah Wali Songo, Raden Fatah, dan Joko Tingkir, sang pendiri Kerajaan Pajang.

Sumber: Kompas Ekstra