Warna-warni lampu bermotif poci menghiasi kawasan Tegal Laka-laka di Kota Tegal, Jawa Tengah, yang di sekitarnya terdapat puluhan pedagang lesehan penjual teh poci, Kamis (4/8/2011) malam. Poci telah menjadi sebuah ikon daerah tersebut yang di sekitarnya berkembang industri teh dan pabrik gula.

 

Oleh Sonya Hellen Sinombor dan Siwi Nurbiajanti KOMPAS.com — Jarum jam hampir menunjukkan pukul 24.00, Kamis (4/8/2011). Namun, seorang pria setengah baya masih saja asyik menikmati teh poci di warung kaki lima di depan sebuah toko di Jalan Ahmad Yani, Kota Tegal, Jawa Tengah. “Kalau belum moci jadi sulit tidur, tidak bisa nyenyak,” ujarnya seraya menuangkan teh dari poci ke cangkir. Malam langsung jadi berbinar.

Pegawai negeri sipil di lingkungan Pemerintah Kabupaten Brebes yang belakangan memperkenalkan diri dengan nama Heri Susanto (54) tersebut mengaku minum teh poci adalah bagian yang tak terpisahkan dalam ritme kehidupannya sehari-hari. Minum teh poci alias moci sudah dilakoninya sejak tahun 1980-an.

Bagi penikmat teh, menikmati teh dalam poci tidak sekadar menikmati minuman teh yang panas, manis,kenthel (kental), dan wangi, tetapi juga menemukan kehangatan berkumpul bersama teman-teman di tempat lesehan moci. Begitu akrabnya teh poci bagi masyarakat sampai-sampai ada anekdot tentang teh poci, yakni cipok alias moci karo ndopok, artinya minum teh poci sembari ngobrol omong kosong kian kemari.

Bahkan, mantan Wali Kota Tegal Adi Winarso konon setelah berkeliling kota di malam hari sering mampir moci di lesehan dan berdialog dengan sejumlah komunitas masyarakat Tegal.

Minum teh poci, menurut budayawan Tegal, Atmo Tan Sidik, selalu hadir dalam kehidupan masyarakat dan menjadi simbol kehidupan. “Sering diungkapkan mangan warek, nyandang rapet, turune anget, wedange buket, pasuduluran kraket. Dalam ungkapan itu, yang dimaksud dengan wedang, ya minum teh,” ujarnya.

Demikian nikmatnya menikmati teh poci pun membuat orang tidak menyadari bahwa hari sudah larut malam. “Kadang pukul 02.00 baru tutup, bahkan tidak jarang pukul 03.00,” kata Kholifah (37) yang akrab dipanggil Mbak Ipah, pedagang lesehan di Jalan Ahmad Yani, Kota Tegal. Kawasan ini populer dikenal sebagai kawasan Tegal Laka-laka.

Harga satu teko (poci) teh poci dengan dua cangkir gerabah berisi gula pasir atau gula batu Rp 3.500-Rp 5.000. Sementara itu, untuk tuangan air kedua atau dalam bahasa Tegal disebut jok, pedagang menyajikannya secara cuma-cuma.

Jangan diaduk

Untuk menikmati sensasi teh poci, ada rahasianya. “Jangan diaduk, ya, gulanya,” ujar Buyung (40), pedagang lesehan di Jalan Letjen Suprapto, Kota Tegal.

Konon, jika gulanya diaduk, justru akan menimbulkan rasa manis yang berlebihan. Sebab, biasanya gula batu atau gula pasir yang disajikan di cangkir melebihi takaran normal. Alasan lain karena panas teh akan mengaduknya sendiri secara perlahan. Aturan ini memang tidak tertulis, tetapi tumbuh secara lisan dan terpelihara di masyarakat.

Menurut sejumlah pedagang, teh poci memang harus dibuat kental agar bisa dituang air mendidih hingga beberapa kali. Penikmat teh poci biasanya akan meminta tambahan air mendidih atau disebutjok untuk poci yang sudah kosong. Untuk satu poci, cukup memasukkan satu bungkus kecil teh seduh seberat 9 gram.

Poci juga harus tersaji panas, dengan menggunakan air mendidih. “Teh poci harus dari air mendidih karena proses senyawa teh dengan tanah sebagai bahan pembuatan poci akan menimbulkan buih,” ujar Nurngudiono, seniman Tegal.

Tak hanya penyajian dan cara menikmati teh poci yang unik. Dalam kepercayaan masyarakat Tegal, minuman dalam poci akan lebih nikmat apabila poci yang digunakan sudah berumur tua. Semakin poci berkerak, semakin mantap rasa teh poci yang dihasilkan. “Kalau dicuci keraknya akan hilang, rasanya jadi hambar,” kata Rasem (52), pedagang teh poci di Jalan Setiabudi.

Tutik (57), pemilik warung Tuti Toyo di Jalan Tentara Pelajar, Kota Tegal, mengaku pernah menggunakan poci berusia lebih dari 15 tahun. Saat itu, ia masih mengelola Warung Pian, salah satu warung tertua di Tegal (berdiri pada 1926), yang sebelumnya dikelola oleh mendiang suaminya, Toyo.

Sedia teh poci

Di Kota Tegal, jumlah pedagang makanan dan minuman mencapai 2.822 orang. Data dari Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian, dan Perdagangan Kota Tegal, sebanyak 903 pedagang berada di wilayah Kecamatan Tegal Timur, 801 orang di Kecamatan Tegal Barat, 678 orang di Kecamatan Tegal Selatan, dan 440 orang di Kecamatan Margadana.

Kepala Seksi Perdagangan Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian, dan Perdagangan Kota Tegal Suliyanta mengatakan, para pedagang makanan di Kota Tegal dipastikan menyediakan teh poci sebagai menu mereka. Hal itu karena minum teh dalam poci merupakan budaya yang mengakar dalam kehidupan masyarakat Tegal.

Di Kabupaten Tegal, situasinya sama. Menurut Kepala Seksi Bimbingan Usaha Dinas Perindustrian dan Pedagangan Kabupaten Tegal Nurhadi Setyawan, hampir semua pedagang makanan menyediakan teh dalam poci. Berdasarkan data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Tegal, jumlah pedagang kaki lima dan lesehan di Kecamatan Slawi dan Adiwerna mencapai 144 orang.

Tidak sulit membeli poci karena di pinggir jalan di Kecamatan Talang dan Adiwerna, Kabupaten Tegal, seperti di jalur Tegal-Purwokerto dan Jalan Kolonel Sugiyono, Kota Tegal, banyak pedagang teh poci.

Sejumlah pedagang poci di wilayah Desa Pesarean, Adiwerna, Kabupaten Tegal, mengakui, wadah poci didatangkan dari Klampok, Kabupaten Banjarnegara. Menurut salah seorang pedagang poci, Ahmad (36), meskipun bukan asli buatan Tegal, banyak poci bertuliskan “Poci Khas Tegal”. “Itu karena poci sudah sangat khas Tegal,” katanya.

Puncak penjualan poci ia rasakan tahun 1997-2000 saat krisis moneter hingga pascakrisis moneter. Larisnya penjualan teh poci seiring banyaknya korban pemutusan hubungan kerja yang membuka usaha lesehan atau warung makan sehingga permintaan poci meningkat. Saat itu dalam sehari Ahmad bisa menjual 300-500 poci.

Mufasirin (40), pedagang poci di Jalan Raya Adiwerna, Kabupaten Tegal, menyatakan, saking melegendanya, poci menjadi salah satu oleh-oleh khas yang banyak diburu warga dari luar Tegal. Ia sering menjual poci kepada wisatawan dari Jakarta, Surabaya, bahkan luar negeri. Satu set (poci dengan tiga cangkir dan satu nampan) dijual Rp 20.000.

Begitulah sensasi budaya moci yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat pesisir di Tegal. Sensasi minum teh yang tidak akan ditemui di daerah lain meski peralatan minum teh yang digunakan sama.